- Selamat datang di website resmi Luhak Kepenuhan, Negeri BERADAT -                                                                                                                         - Adat bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah -                                                                                                                        -Adat Luhak Kepenuhan mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H... Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. -                                                                                                                        - Website ini masih dalam proses pelengkapan data (by: admin)-

Perkawinan

  • Diposting oleh Unknown
  • di Rabu, Juli 31, 2013 -

“Dan setengah dari pada tanda-tanda kebessaranNya bahwa dia ciptakan untuk kamu dan dirimu sendiri akan isteri-isteri. “ (panqkal ayat 21)

Pangkal ayat ini boleh ditalsirkan denqan dua jalan penapsiran. Pertama kita pakai tafsir yang terbiasa, yaitu bahwa Insan pertama di muka -ini ialah nenek-moyang manusia yang bernama.Nabi Adam. Maka adalah riwayat, yang tersebut di dalam Hadis yang diriwayatkan oleh lbnu Abbas dan lain-lain bahwa tatkala Nabi Adam itu sedang tidur nyenyak seorang diri didaam syurqa Jannatun Naim. dicabut Tuhanlah satu di antara tulang rusuknya sebelah kiri, lalu dijelmakan menjadi seorang manusia itu akan jadi temannya, tetapi diciptakan dia sebagai timbalan dari Adam. Terutama dalam halkelamin , yaitu. pada Adam diberi kelaki-lakian dan pada isteri yang (diambil dan bahagian badan Adam itu diciptakan tanda keperempuanan. Lalu keduanyn dikawinkan.


Tetapi tidak salah kalau kita menyimpang daripada tafsir yang biasa itu, kalau kita ingat yang dibahasakan “Dia ciptakan untuk kamu” itu adalah buat seluruh manusia, bukan untuk satu orang nenek yang bernama Adam. Teranglah bahwa yang diambil dan bahagian badannya untuk jadi isterinya itu hanyalah Nabi Adam saja. Adapun keturunan Nabi Adam, anak-anak, cucu-cucu dan cicit Nabi Adam yang telah bertebaran di seluruh permukann bumi ini, tidaklah seorang juga lagi yang isterinya diambilkan Tuhan dari bagian badannya. Di dalam Surat 32, as-Sajdah ayat 7 dan 8 jelas sekali bahwa yang dijadikan Iangsung dari tanah hanya Adam (ayat 7). Adapun keturunan Adam diciptakan dari sari pati air yang lemah, yaitu mani (ayat 8).


Maka yang diper”kamu” oleh Tuhan di ayat 22 ini dengan ucapan “Dia ciptakan untuk kamu” dan dirimu sendiri akan istri-isteri. ialah seruan kepada seluruh manusia, bahwa manusia itu sebagai manusia, sebagai cucu Adam pada hakikatnya adalah satu, Ayat 1 dan Surat 4 an-Nisa’ telah menjelaskan bahwa penciptaan manusia itu ialah  dari nafsu waahidatin. yaitu dari diri yang satu, manusia namanya, Dari manusia yang satu itu juga, bukan diambilkan dari tempat lain. dijadikan akan isteri-isterinya. Sesuai dengan Hadis Nabi saw;


“Daripada Anas bin Malik (moga-moga ridha Allah terhadap dirinya), dari Nabi .s.a.w. bahwa beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah telah mewakilkn dalam hal rahim  seorang malaikat. Dia berkata: “Ya Tuhan, apakah, akan di jadikan nuthfah? “Ya Tuhan! Apakah akan diteruskan jadi ‘alaqah?” “Ya Tuhan, apakah akan diteruskan , jadi mudhgah?“ maka bilamana Allah telah menghendaki  terc iptakannya (jadi anak). berkata pulalah malaikat itu “‘Ya Tuhan! Apakah akan jadi orang celaka atau akan jadi orang bahagia? Apakah akan jadi laki-laki atau  akan jadi perempuan? Maka bagaimana rezekinya? Maka bagaimana ajalnya demikian itu ketika dituliskanlah itu ketika dia masih dalam perut ibunya.


Hadist ini bertambah memberi penjelasan bagi kita bahwa manusia itu adalah satu jenisnya. Dari jenis yang satu itu juga, bukan dari yang lain yang ditentukan Allah menjadi perempuan: karena dia akan dipasangkan kelak dengan laki-laki . Karena Tuhan telah bersabda pula, sebagai tersebut pada ayat 8 Surat an-Naba :

Maka dipertemukanlah oleh Allah “jodoh” di antara kadua pihak si jantan dengan si betina, untuk melanjutkan tugas berkambang biak di muka bumi,, ‘Agar tenieramlah karnu kepadanya.” Artinya akan gelisahlah hidup kalau hanyn seorang diri karena kesepian, terpencil tidak berteman. Lalu Si laki-laki mencari-cari si perempuan sampai dapat dan si perempuan menunggu nunggu si laki-laki sampai datang. Maka hidup pun dipadukanlah jadi satu. Karena hanya dengan perpaduan jadi satu itulah akan dapat langsung pembiakan manusia. “Dan Dia jadikan di antara kamu cinta dan kasih sayang.

Cinta dan kasih-sayang dengan sendirinya tumbuh. Pertama sebab positif selalu ingin menemui negatif, jantan mencari betina dan laki-laki inginkan perempuan. Segala sesuatu mencari timbalannya. Dan yang demikian tidaklah akan terjadi atau membawa hasil yang dimaksudkan. yaitu perkembangan biak, kalau tidak dan yang sejenis. Orang yang mendapat sakil syahwat setubuh yang keterlaluan (sex maniac) bisa saja menyetubuhi binatang. misalnya kuda atau sapi. Namun dari persetubuhan itu tidaklah akan rnenghasilkan anak Di satu penyelidikan kedokteran tentang biologi telah dicoba orang mengawinkan” seoranperempuan manusia dengan gorilaatau monyet besar. . Mereka dapat bersetubuh dengan puas, tetapi anak tidak ada. ltulah hikrnat makanya daripada “kamu sendiri dijadikan akan isteri -isteri kamu.’


Tentang mawaddatan wa rahmatan. Cinta dan kasih-sayang yang tersebut dalam ayat itu, dapatlah kita menafsirkan bahwa mawaddatan yang kita artikan dengan cinta. ialah kerinduan seseorang laki-laki yang dijadikan Allah thabiat atau atau kewajaran dan hidup itu sendiri. Tiap-tiap laki-laki yang lihat dan perempuan yang sihat, senantiasa mencari terman hidup yang disertai keinginan menumpahkan kasih yang disertai kepuasan bersetubuh Bertambah terdapat kepuasan bersetubuh, bertambah termaterailah mauaddatan atau cinta kedua belah pihak. Oleh sebab itu maka tidak ada salahnya dalam pandangan ajaran Islam jika kedua belah pihak suami-isteri membersihkan badan, bersolek. ber harum-haruman, wangi-wangian. hingga kasih mesra mawaddatan itu bertambah mendalam  kedua belah pihak.


Tetapi sudahlah nyata bahwa syahwat setubuh itu tidaklah terus-menerus selama hidup. Apabila badan sudah mulai tua, laki-laki sudah lebih dari 60 tahun dan perempuan sudah mencapai 50 tahun, syahwat setubuh dengan sendirinya mulailah mengendur. Tetapi karena hidup bersuami-isteri itu bukan semata-mata mawaddatan. bertambah mereka tua, bertamblah kasih mesra kedua pihaknya bertambah dalam. Itulah dia rahmatan, yang kita artikan kasih sayang. Kasih-sayang lebih mendalam, dan cinta. bertambah mereka tua bangka, bertambah mendalam rahmatan kedua belah pihak. Apatah lagi  melihat anak-anak dan cucu-cucu sudah besar-besar, sudah dewasa, bahkan sudah tegak pula ke tengah masyarakat.
Teranglah di sini bahwa hubungan laki-laki dan perempuan adalah satu di antara ayat-ayat Allah, atau satu di antara berbagai ragam kebesaran Tuhan. Dia bukanlah dosa, sebagaimana disangka oleh setengah pemimpin fikiran dan agama Kristen. Ditanamkan dalam jiwa sejak kecil, bahwa terjadinya hubungan kelamin laki-laki dengan perempuan adalah tersebab dosa Adam. Setengah mereka menafsirkan Buah Khuldi yang termakan oleh Adam dan Hawa dalam syurga ‘Aden itu ialah setubuh!


Tafsir Al-Azhar (juzu 21)

Islam tidak mengajarkan demikian! Dengan ayat ini ditunjukkan bahwa hubungan laki-laki dengan perempuan adalah salah satu daripada ayat-ayat atau  tanda-tanda kebesaran Allah. Itu mesti terjadi: kalau tidak maka punahlah manusia di dunia ini. Maka untuk mengatur hidup itu supaya berjalan dengan wajar dan teratur, dijelaskanlah bahwa agama itu gunanya ialah untuk menjaga yang lima perkara: (1) Menjaga agama itu sendiri, (2) Menjaga akal supaya jangan rusak. (3) Menjaga jiwa supaya jangan binasa menurut yang yang tidak wajar. (4) Menjaga harta benda, dan (5) Menjaga keturunan.


(1) Untuk menjaga agama mesti diadakan pemerintahan yang teratur Dilarang murtad
(2) Untuk menjaga akal diperintahkan belajar dan menambah ilmu penge tahuan. Dilarang keras meminum-minuman dan memakan makanan yang dapat merusakkan akal.
(3) Dijaga hak hidup seseorang. Terlarang membunuh manusia atau membunuh diri sendiri. kecuali menurut peraturan yang telah tertentu, seumpama jiwa bayar jiwa.
(4) Dijaga hartabenda, diakui hak milik, dianjurkan berniaga, berusaha. berani dan sebagainya pekerjaan yang halal. Dilarang mencuri, menipu harta orang, perampok, korupsi dan sebagainya.
(5) Disuruh bernikah kawin, dibenci melakukan talak kalau tidak terpaksa sangat, dilarang berzina dan segala hubungan kelamin di luar nikah, Sebab Tuhan telah menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang termulia dan bersopan-santun, mempunyai akhlak yang tinggi. Sebab itu hendaklah seseorang manusia menghargai dirinya sendiri, sebab Tuhan telah  menghargainya. Manusia baru mempunyai kebanggaan diri dan sebab keturunannya.


‘Sesungguhnya pada yang demikian adalah tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (ujung ayat 21).
Ujung ayat memberi ingat kepada manusia agar mereka fikirkan ini kembali. Kenangkan baik-baik. Cobalah fikirkan bagaimana jadinya dunia ini kalau kiranya manusia berhubungan di antara satu dengan yang lain, laki-laki dengan perempuan sesuka hatinya saja. Tidak ada peraturan yang bernama nikah dan tidak ada peraturan yang bernama talak. Lalu jika bertemu orang “mengawan”* saja laksana binatang, sampai perempuan itu hamil. Lalu  si laki-laki pergi dan mengawan” lagi dengan perempuan lain, dan seorang perempuan menyerahkan dirinya pula kepada segala laki-laki yang disukai atau menyukai dia. Kalau terjadi demikian, niscaya tidaklah begini dunia sekarang, dan tidaklah ada kebudayaan, tidaklah ada rasa cemburu.


* Mengawan adalah bahasa Melayu (indonesia) yang terpakai buat binatang jantan dengan betina. yang untuk manusia (laki-laki dan perempuan) disebut bersetuh..

Author

Ismail, S.Ag, M.Si

Seluruh kontent dan artiket di website ini dilindungi oleh Undang-Undang, Dilarang mongcopy atau memperbanyak tanpa izin pemeggang hak cipta.